Belajar Langsung dari Dapur Redaksi: Mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta Kunjungi Menara Kompas
header01
Belajar Langsung dari Dapur Redaksi: Mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta Kunjungi Menara Kompas
Udara malam Jakarta tak menyurutkan semangat kami, mahasiswa Jurnalistik semester 6 Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, untuk menyusuri dunia jurnalistik dari pusatnya langsung. Bertempat di lantai 5 Menara Kompas, kami mengikuti sesi pemaparan materi bersama jurnalis senior Kompas, sebelum akhirnya menyeberang ke gedung percetakan Harian Kompas dan menyaksikan langsung proses produksi koran nasional itu. Kegiatan dimulai pukul 19.00 WIB di lantai 5 Menara Kompas. Kami disambut oleh tim Humas dan redaksi, lalu mengikuti dua materi utama. Sesi materi pertama memperkenalkan sejarah dan filosofi Harian Kompas, merupakan sebuah media yang lahir sejak 28 Juni 1965 dan didirikan oleh P.K. Ojong dan Jakob Oetama. Kompas mengusung semboyan “Amanat Hati Nurani Rakyat”, dan namanya sendiri diberikan oleh Soekarno sebagai simbol arah dan pedoman informasi bagi masyarakat. Materi kemudian dilanjutkan dengan prinsip kerja jurnalistik Kompas: akurasi, keberimbangan, dan independensi dalam menyajikan berita. Kami juga dikenalkan dengan transformasi Kompas dari media cetak ke digital melalui platform Kompas.id, serta simulasi penyusunan koran dengan nama “Bentara Rakyat”.     Sekitar pukul 21.00 WIB, kami diarahkan untuk menyeberang ke gedung percetakan Kompas yang berada tepat di seberang Menara Kompas. Di sana, deru mesin cetak langsung menyambut kami. Proses pencetakan Harian Kompas sedang berlangsung: gulungan kertas putih melaju cepat di antara mesin cetak offset, ditimpa tinta, dipotong otomatis, lalu dibundel siap distribusi. Kami menyaksikan bagaimana berita-berita yang tadi dibahas di ruang redaksi kini berubah menjadi produk cetak nyata. Proses ini dimulai ketika file layout akhir koran dikirim dari redaksi ke bagian praproduksi. Di sini, halaman-halaman koran dikonversi ke dalam format cetak berupa pelat cetak aluminium yang berisi susunan teks dan gambar. Pelat tersebut kemudian dipasang ke mesin cetak offset. Mesin akan menggulirkan tinta ke pelat, lalu mentransfernya ke gulungan kertas menggunakan sistem drum dan silinder. Setelah proses penintaan, kertas yang sudah tercetak bergerak menuju pemotongan otomatis. Kertas dipotong sesuai ukuran, dilipat, dan disusun menjadi bundel koran. Dalam hitungan menit, ribuan eksemplar tercetak dengan kecepatan tinggi. Pemandu menjelaskan bahwa seluruh proses ini dikendalikan oleh sistem komputerisasi, mulai dari pengaturan warna, alur tinta, hingga pemantauan hasil cetak agar tetap presisi.     Meskipun teknologinya canggih, suasana di ruang cetak tetap hening. Tak banyak suara selain dentuman mesin dan aliran kertas yang konstan. Ritme kerja yang tertata dan konsisten mencerminkan dedikasi tinggi tim produksi. Pemandu menegaskan bahwa meski dunia digital berkembang pesat, proses cetak fisik tetap dijalankan dengan standar mutu yang ketat dan rasa tanggung jawab tinggi terhadap informasi yang akan dikonsumsi publik esok paginya. Kunjungan ini memberikan pengalaman berharga bagi kami sebagai calon jurnalis. Tidak hanya melihat teori di kelas diwujudkan dalam praktik nyata, tapi juga merasakan langsung atmosfer profesionalisme di balik sebuah media besar. Dari lantai 5 Menara Kompas hingga gedung percetakan seberangnya, kami belajar bahwa jurnalisme sejati lahir dari proses panjang yang penuh dedikasi dan integritas.  

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *